Melimpahnya jumlah serangga membuat kelompok ini menempati hampir
seluruh jenis habitat yang ada, bahkan pada habitat yang tidak wajar
untuk dihuni hewan seperti di dalam jaringan tumbuhan atau jaringan
tubuh hewan lain. Serangga menduduki berbagai macam relung kehidupan dan
memiliki fungsi yang beragam di dalam ekosistem sehingga mempelajari
mereka merupakan usaha yang sulit, namun bukan berarti tidak mungkin.
Karena memilki peran yang bermacam-macam tadi-lah, studi mengenai
serangga tidak cukup hanya dari satu disiplin ilmu. Keberadaan mereka
dapat dipelajari dari bebagai sudut pandang yang berbeda untuk
mendapatkan data mengenai pemanfaatannya. Entomologi merupakan ilmu yang
menjadi dasar bagi ilmu-ilmu lain yang memberikan data awal mengenai
karakteristik, bentuk kehidupan, dan bermacam pengetahuan lain mengenai
serangga yang selanjutnya dapat digunakan untuk menunjang ilmu lain
dalam memanfaatkan keberadaan serangga.
Entomologi Kedokteran
Peran entomologi dalam bidang kedokteran terutama berkaitan dengan
kemampuan serangga untuk menjadi vektor penyakit. Menurut perannya dalam
ilmu kedokteran, serangga dapat digolongkan menjadi: (1)Yang menularkan
penyakit (vektor dan hospes perantara);(2)Yang menyebabkan
penyakit (parasit); (3)Yang menimbulkan kelainan karena toksin yang
dikeluarkan; (4)Yang menyebabkan alergi pada orang yang rentan; (5) Yang
menimbulkan entomofobia (perasaan takut terhadap serangga, rasa takut
disebabkan oleh bentuknya atau karena gerakannya)
Dari berbagai jenis serangga, serangga dari Ordo Diptera (lalat dan
nyamuk) adalah yang paling banyak berperan sebagai vektor penyakit.
Banyak penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri ataupun
mikroorganisme lain penyebab penyakit seperti Nematoda, dalam
penyebarannya dibantu oleh serangga terutama dari kelompok ordo diptera.
Pengendalian vektor dapat digolongkan dalam pengendalian alami (
Natural control ) dan pengendalian buatan (
Artifical applied control). Pengendalian
alami dapat dilakukan misalnya dengan menggunakan predator alami.
Pengendalian buatan dapat berupa pengendalian lingkungan, kimia, fisik,
mekanik, biologi, dan pengendalian genetik. Pengembangan metode
pengendalian vektor ini masih terus berkembang sehingga memungkinkan
untuk menemukan metode yang paling efektif dengan memanfaatkan berbagai
disiplin ilmu.
Entomologi Forensik
Perkiraan saat kematian dalam suatu kasus forensik adalah hal yang
penting. Perkiraan saat kematian dapat membantu pihak kepolisian dalam
konfirmasi alibi seseorang, sehingga mempermudah dalam penentuan
tersangka dalam pembunuhan. Dalam ilmu kedokteran, memperkiraan saat
kematian tidak dapat dilakukan dengan 1 metode saja, gabungan dari 2
atau lebih metode akan memberikan hasil perkiraan yang lebih akurat
dengan rentang bias yang lebih kecil. Salah satu metode yang dapat
dilakukan adalah interpretasi aktifitas serangga (entomologi forensik).
Entomologi forensik mengevaluasi aktifitas serangga dengan berbagai
teknik untuk membantu memperkirakan saat kematian dan menentukan apakah
jaringan tubuh atau mayat telah dipindah dari suatu lokasi ke lokasi
lain. Penetuan waktu kematian dapat dilakukan dengan mengidentifikasi
umur serangga maupun telur yang ada pada mayat, sehingga para patologis
dapat memperkirakan dengan lebih tepat waktu kematian mayat tersebut.
Asumsi pokok bahwa mayat manusia yang masih “baru” belum dikerumuni
serangga dan serangga tersebut belum berkembang dalam mayat. Dengan
demikian umur serangga yang semakin tua beserta telur yang ditemukan
pada mayat dapat dijadikan dasar perkiraan interval post-mortem minimum.
Untuk menentukan apakah suatu mayat telah dipindahkan dari lokasi
pembunuhan yang sebenarnya dapat dilakukan dengan mengidentifikasi
serangga yang terdapat pada mayat dan dibandingkan dengan serangga
serupa yang terdapat di sekitarnya. Identifikasi terutama secara
molekular akan diperoleh data apakah serangga yang terdapat pada mayat
berasal dari daerah tempat mayat tersebut ditemukan ataukah berasal dari
tempat lain, karena pada dasarnya bahkan serangga yang sejenis dapat
memiliki variasi genetik yang berbeda antara lokasi satu dengan yang
lain.
Entomologi Lingkungan
Penggunaan bioindikator akhir-akhir ini dirasakan semakin penting
mengingat semakin banyaknya pencemaran terhadap lingkungan. Penggunaan
organisme indikator didasarkan pada adanya keterkaitan antara faktor
biotik dan abiotik lingkungan. Pemanfaatan serangga sebagai indikator
serta pengujian hipotesis dalam menominasikan suatu spesies atau
kelompok serangga tertentu sebagai suatu bioindikator telah dibahas oleh
McGeoch (1998). Menurutnya, bioindikator atau indikator ekologis adalah
taksa atau kelompok organsime yang sensitif dan memperlihatkan gejala
terpengaruh oleh tekanan lingkungan akibat aktifitas manusia atau akibat
kerusakan sistem abiotik.
Beberapa kelebihan penggunaan serangga sebagai bioindikator adalah :
1) Jumlahnya yang sangat melimpah, sehingga memudahkan dalam menghitung keanekaragamnnya.
2) Sering menunjukkan aktifitas yang bermodus (univoltin, partivoltin
atau bivoltin), sehingga populasinya dari tahun-ketahun bereaksi dengan
cepat terhadap perubahan lingkungan
3) Umumnya bersifat lokal dan kebanyakan diantaranya cocok untuk pemantauan habitat.
4) Dapat dimonitor dengan metode sampling perangkap pasif, sehingga
lebih ekonomis dibandingkan metode monitor secara biologis lainnya.
Serangga yang paling sering digunakan sebagai bioindikator saat ini
misalnya adalah capung jarum (Agrionidde / Coenagriidae). Daerah dimana
banyak terdapat capung diyakini menunjukan bahwa air di daerah tersebut
masih bersih atau tingkat pencemarannya masih rendah. Sebab, capung yang
menghabiskan sebagian besar hidupnya pada fase nimfa sangat membutuhkan
air yang tenang dan bersih. Serangga lain misalnya semut rangrang ()
digunakan untuk mendeteksi polusi udara, kunang-kunang untuk memonitor
pencemaran , dsb.
Entomologi Ekonomi
Salah satu serangga yang menjadi primadona dalam pengembangan usaha mandiri adalah ulat sutra (
Bombyx mori). Budi daya sutera alam memang menawarkan keuntungan yang menggiurkan. Saat ini produksi kepompong ulat sutera alias
kokon,
masih belum sanggup memenuhi seluruh kebutuhan industri kain sutera
nasional. Data Depperin menyebutkan, hingga saat ini, produksi kokon
ulat sutera hanya sekitar 250 ton per tahun. Jumlah produksi itu masih
jauh di bawah kebutuhan kokon nasional yang mencapai 700 ton per tahun.
Usaha ini sebenarnya sangat gampang dan sederhana. Modalnya pun
relatif kecil. Cukup dengan uang Rp 60.000, kita sudah bisa mendapat
satu kotak berisi 25.000 telur benih ulat sutera. Tentu juga harus
disediakan pula berbagai peralatan dan kebutuhan untuk budidaya ulat
sutera. Namun, total modal awal membudidayakan ulat sutera tak lebih
dari Rp 2 juta. Dalam waktu 25 hari – 32 hari, kita sudah bisa memanen
hingga 20 kg kepompong sutera mentah. Rata-rata, satu kokon akan
menghasilkan benang sutera sepanjang 1 kilometer. Masa panennya memang
cepat karena siklus hidup ulat sutera sejak larva hingga masa kawin
serta bertelur, hanya berlangsung selama sekitar satu bulan. Harga kokon
sutera normal berkisar Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram (kg).
Jika sudah diolah menjadi benang, bisa naik hingga 10 kali lipat
ketimbang harga kokon.
Peternakan ulat sutera sesungguhnya multiguna. Ia bisa berfungsi
ekologis- melestarikan alam dan industri ramah lingkungan. Bisa juga
bernilai ekonomis dan sekaligus susio-kultural. Kain sutera membuka
kegiatan sosial bernilai budaya tinggi dan berdampak langsung pada
kesehatan. Serat sutera bersifat higroskopis, menghalangi terpaan sinar
ultraviolet, menjaga kekenyalan kulit, dapat di manfaatkan sebagai bahan
kosmetik maupun industri pengobatan.
Entomologi Estetika
Berbagai jenis serangga yang mempunyai bentuk dan warna indah dan
menarik banyak kita jumpai di alam Indonesia. Keberadaan
serangga-serangga ini sangat diminati para pencinta seni, kolektor serta
memberikan inspirasi berbagai karya seni, perangko dan sebagainya.
Namun kekayaan yang sangat indah ini belum dimanfaatkan secara baik dan
efisien. Pemanfaatan serangga indah untuk keperluan perdagangan
internasional atau untuk atraksi turis (ekoturisme) perlu mulai
digalakkan, antara lain dengan cara menyelenggarakan peternakan
serangga, Taman kupu dan sebagainya. Kegiatan ini selain mendukung
kegiatan penelitian juga merupakan sarana menarik yang mendatangkan
devisa sekaligus menjadi salah satu cara konservasi baik serangga serta
habitatnya. Namun yang perlu diperhatiakan adalah penjagaan terhadap
kekayaan serangga itu sendiri. Pemahaman mengenai karakter serangga
perlu dilakukan agar pemanfaatan dan penjagaannya berjalan dengan lebih
optimal.
Entomologi Pengobatan
Selain berparan sebagai vektor penyakit, ternyata sebagian serangga
juga memiliki peran yang berkebalikan yaitu sebagai agen pengobatan.
Baik dari metabolit yang dihasilkannya (misalnya pemanfaatan undur-undur
sebagai obat diabetes) maupun dari segi aktivitas serangga itu sendiri.
Salah satu jenis serangga yang saat ini dikembangkan pemanfaatannya
adalah lalat.
Larva lalat ( belatung ) memang sejak dulu dipakai untuk membersihkan
luka. Ulat ini cuma memakan jaringan yang mati dan mempercepat
terjadinya regenerasi. Teknik perawatan seperti ini telahdigunakan
terhadap tentara-tenteara yang cedera pada Perang Dunia I. Kini belatung
digunakan lagi oleh beberapa dokter. Pakar bedah sering kali
menggunakan larva untuk merawat penyakit radang tulang atau
osteomyelitis dan kematian sel atau gangrene. Jenis lalat yang sering
digunakan untuk perawatan ini, terutama di Eropa, ialah lalat rumah
Musca domestica serta jenis
Lucilla sericata, Lucilla caecar, Phormia regina dan
Wohlfahrtia nuba.
Dalam penelitian lebih lanjut didapatkan bahwa selain berperan
sebagai pemakan sel mati, ternyata larva lalat juga dapat menghasikan
allantoin, ammonia dan kalsium karbonat. Allantoin merupakan suatu bahan
protein yang membantu pertumbuhan sel-sel. Ammonia dan kalsium karbonat
dapat membuat luka menjadi alkali. Di dalam keadaan ini kuman-kuman
dapat dibunuh di samping meredakan bengkak serta mencegah kematian
sel-sel.Dalam perkembangannya, telah diciptakan semacam pembalut luka
yang dilapisi dengan cairan kotoran dan sekresi yang telah dimurnikan.
Cairan itu diambil dari larva lalat hijau hidup. Terbukti bahwa
penggunaan terapi ini lebih mempercepat proses penyembuhan luka.
Entomologi Nutrisi
Bagi kelompok masyarakat tertentu, terutama di Afrika dan beberapa
kelompok di Asia, konsumsi larva dan serangga dewasa ternyata memberikan
sumbangan zart gizi yang sangat berarti.Tercatat terdapat 1700 spesies
serangga yang dimakan di 113 negara. Di Eropa dan Amerika, perburuan
serangga untuk dimakan ternyata juga dilakukan, tetapi tujuannya
sebagian besar adalah untuk gaya hidup. Banyak orang di negara-negara
maju tersebut menyukai gaya hidup di alam bebas atau alam liar termasuk
cara mendapatkan makanannya. Bagi mereka, serangga merupakan makanan
favorit yang sering diburu. Tentu selain bermanfaat bagi pemenuhan
kebutuhan pangan, aktivitas ini juga dapat membantu mengurangi populasi
serangga perusak dan mengurangi eksploitassi terhadap daging hewan.
Serangga kering dengan berat yang sama dikatakan mengandung protein dua
kali lebih banyak dibanding daging mentah hewan, serta kaya dengan lemak
tidak jenuh, vitamin dan mineral.
Berbagai jenis serangga di berbagai belahan dunia diolah menjadi
bermacam-macam panganan. Di Ethiopia, belalang ditumbuk dan direbus
dengan susu, atau dikeringkan dan digiling menjadi tepung. Tepung
belalang ini kemudian dicampur dengan minyak sayur dan dipanggang
menghasilkan makanan sejenis cake. Di Afrika Barat, rayap digoreng dalam
minyak sawit, sedangkan di Malawi dan Zimbabwe rayap dipanaskan
sebentar, dikeringkan dan kemudian dijual. Beberapa negara tropis
memanfaatkan kumbang air sebagai bahan pangan. Kumbang air raksasa (
Lethocerus indicus)
atau maeng-da-na sangat dihargai di Thailand karena keunikan rasanya.
Panjangnya sekitar 5-6 cm dan ditangkap dengan jaring yang dirancang
secara khusus. Setelah dikukus, kemudian direndam dalam saos udang dan
digerus menjadi pasta yang disebut mang daar. Di Asia Selatan, pupa dari
ulat sutra atau
Bombyx mory, dimakan sebagai snack setelah
diambil benang-benang sutranya. Sebelum menguraikan benang sutra, kokon
dicelupkan ke dalam air mendidih, yang menyebabkan pupa di dalam kokon
menjadi masak. Pupa ulat sutra juga dapat digoreng dan dicampur daun
jeruk purut, atau dibuat sup dengan brokoli dan rempah-rempah.
Pengolahan serangga sebagai makanan seperti yang diuraikan di atas
belumlah setengah dari keseluruhan jenis makanan hasil olahan dari
serangga. Di beberapa Negara seperti Thailand misalnya, olahan serangga
ini dipasarkan secara komersil menjadi makanan kelas atas sehingga
banyak orang yang harus antri demi dapat mencicipi makanan dari serangga
ini.
Entomologi Pertanian
Permasalahan antara serangga dan pertanian merupakan masalah klasik
yang hingga saat ini masih terus dibicarakan. Sebagian serangga memang
dikenaal sebagai penolong dengan membantu proses penyerbukan beberapa
tanaman budidaya. Namun sebagian besar lainnya justru menjadi biang
kerok hancurnya tanaman petani. Masalah ini masih sering kali terjadi
sehingga studi tentang masalah ini belum berhenti.
Pengendalian hama menjadi objek yang sering dikaji karena meskipun
telah ditemukan berbagai metode pengendalian, tidak semuanya berhasil
dengan sangat optimal pada berbagai kasus. Pada kasus tertentu umumnya
memerlukan teknik tertentu pula untuk menanggulanginya. Pengendalian
hama yang berkembang saat ini adalah pengendalian hama terpadu yang
mengkolaborasikan berbagai teknik demi pencapaian hasil yang optimal.
Pengandalian hama terpadu (PHT) dilakukan dengan memadukan dan
memanfaatkan semua metode pengendalian hama, termasuk pemanfaatan
predator dan parasitoid, varietas tahan hama, teknik bercocok tanam dan
yang lain, bahkan bila perlu menggunakan pestisida selektif. Hasil yang
optimal dapat diperoleh dengan melakukan analisis yang mendalam terlebih
dahulu mengenai teknik apa saja yang harus diterapkan untuk suatu kasus
tertentu agar populasi hama dapat ditekan namun tidak berdampak buruk
terhadap keseimbangan ekosistem. Pengetahuan akan hal ini sangat
diperlukan demi menghasilakan produksi pertanian seperti yang
diharapkan, namun tetap tidak merusak lingkungan.